Jl Pos No 2 Jakarta Pusat (021)3840915 admin@sma.santaursulajakarta.sch.id Senin - Jumat : 07.00 WIB - 14.00 WIB Sabtu : 07.00 WIB - 11.30 WIB

Rumah Keduaku (Michelle-XI Bahasa)

Santa Ursula, salah satu sekolah Katolik tertua di Jakarta. Lantas, bangunan ini masih berdiri tegap dan gagah. Coba saja kau tebak berapa umur bangunan ini? Tak banyak yang mengetahui bahwa bangunan ini sudah berusia 160 tahun. Aku pribadi di sini, hanyalah berperan sebagai pelajar baru di lingkungan yang mungkin sudah kukenal, tetapi belum secara mendalam. Baiklah, akan kumulai ceritaku.

 

Santa Ursula, salah satu sekolah Katolik tertua di Jakarta. Lantas, bangunan ini masih berdiri tegap dan gagah. Coba saja kau tebak berapa umur bangunan ini? Tak banyak yang mengetahui bahwa bangunan ini sudah berusia 160 tahun. Aku pribadi di sini, hanyalah berperan sebagai pelajar baru di lingkungan yang mungkin sudah kukenal, tetapi belum secara mendalam. Baiklah, akan kumulai ceritaku.

Bila sekedar memijakkan kaki ke bangunan tersebut, kurasa hal itu bukan lagi untuk pertama kalinya. Namun, menapakkan kakiku dengan tubuh yang dilapisi seragam hijau kotak-kotak yang menjadi ciri khas Santa Ursula ini merupakan hal baru bagiku. Jantungku berdetak sangat kencang layaknya marching band yang sedang bermain kencang dalam jantungku. Aku belum pernah berada di lingkungan yang benar-benar asing karena selama ini aku menempuh pendidikan di lingkungan dan tempat yang sama pada jenjang sebelumnya. Banyak sekali perubahan-perubahan drastis yang kualami.

Aku tergolong sebagai anak yang pendiam dan mungkin sulit bersosialisasi. Mungkin sebenarnya aku bisa, hanya saja tergantung seberapa besar niat dan keberanianku saat itu. Santa Ursula sering terdengar sebagai sekolah yang ramah. Sebelumnya, aku juga melihat secara langsung ramahnya karyawan, pekerja, dan murid-murid di situ. Karena sudah terbukti, maka aku mendorong diriku sebisa mungkin untuk berinteraksi ke beberapa murid di sekolah ini. Sangat memungkinkan jika proses tersebut tidaklah mudah sehingga membutuhkan beberapa hari untukku mendapatkan teman. Setidaknya, lebih cepat dari yang kubayangkan. Setelah melewati tahap tersebut, aku merasa lebih yakin dan percaya diri berada di tempat itu, tempat yang sudah resmi disebut sebagai sekolahku. Atau mungkin rumah keduaku?

Seusai kegiatan MPLS, ada beberapa hal yang terlintas di pikiranku, dan sejujurnya hal ini masih merupakan pertanyaan bagiku. Mampukah aku melewati pembelajaran di sini? Mampukah aku tuntas dalam nilai-nilaiku baik tugas ataupun ulangan? Mampukah aku mempertahankan persahabatan ini? Mampukah aku membagi waktu dengan tugas dan ulangan yang menumpuk? Mampukah aku berperan aktif? Mampukah aku? Kukira pertanyaan tersebut dapat kujawab hanya dalam jangka waktu satu malam. Dalam sekejap, aku tidak sadar bahwa hari pertamaku telah dimulai. Ini merupakan hari pertamaku yang sesungguhnya. Melakukan pembelajaran dan hal-hal biasa yang selalu kulakukan setiap harinya di tempat aku menempuh pendidikan selama ini. Jika kau tanya seberapa gugup diriku, mungkin bisa digambarkan sebagai ikan kecil yang sedang dikejar pemangsa untuk dimakan. Namun, berbeda dengan kekhawatiran awalku. Aku bisa melewatinya dengan hati yang masih riang.

Hari demi hari, minggu demi minggu, berhasil kujalani. Tentu, dalam suatu cerita, apapun itu, selalu mengandung suatu titik berisi hal-hal pahit yang dirasakan. Aku tentu merasakannya, nilai yang turun yang berdampak juga dengan turunnya semangatku. Dua hal yang kuingat, keluargaku yang mendukungku apa adanya dan semua temanku yang memberikan dukungan yang tiada taranya.Saat masa pengenalan, kami dinasihati berulang kali bahwa jika kita menempuh perjuangan di sini secara individu, pasti akan susah melewatinya. Namun, dengan kekompakan kelas dan dukungan teman, akan mudah melewatinya dan pasti akan berhasil. Bahkan hari-har tidak akan terasa sudah berlalu. Sekarang, sudah terbukti kebenarannya.

Selama aku bersekolah di tempat ini, aku sudah merasakan beberapa acara Santa Ursula yang menurutku tiada duanya. Aku mencintai setiap hari, setiap jam, menit, bahkan detik yang kulalui. Akan kukatakan sejujurnya, bahwa acara-acara kecil dan sederhana itu bagiku telah menjadi sesuatu yang besar dan sangat bermakna. Akan kuambil satu contoh yang menurutku merupakan salah satu hadiah terindah yang kuperoleh dari acara tersebut, pertemanan yang sekarang berubah menjadi kekeluargaan. Sudah kubilang hal tersebut kugolongkan sebagai hadiah terindah. Tentunya karena menurutku, tiada makhluk yang bisa menggantikan uang dengan pertemanan. Tiada makhluk yang bisa menggantikan uang dengan persahabatan. Tiada makhluk yang bisa menggantikan uang dengan kekeluargaan dan yang terpenting adalah kebahagiaan. Sudah dengan sendirinya terekam kenangan-kenangan indah saat itu. Setiap aku teringat, kembali aku merasa bahagia. Bukankah hal itu sangat sederhana? Namun, banyak sekali hal-hal baik yang didapatkan.

Mungkin sekarang, bisa kutarik pertanyaan-pertanyaanku dan semua pikiran negatifku. Aku bisa dan pasti bisa melewati ini. Selama aku mempunyai niat, giat, bahkan beruntungnya diriku yang juga mempunyai dukungan tiada usainya dari keluargaku dan kawanku. Setidaknya begitu pendapatku. Mungkin sekarang, kamu bisa membuktikan.

Super User