Jl Pos No 2 Jakarta Pusat (021)3840915 admin@sma.santaursulajakarta.sch.id Senin - Jumat : 07.00 WIB - 14.00 WIB Sabtu : 07.00 WIB - 11.30 WIB

Napak Tilah Kotak - Kotak Hijau (Sisca-Sanur 2003)

Perjalanan ribuan mil selalu bermula dari setapak dua tapak langkah, begitulah pepatah Cina dari Lao Tzu. Perjalanan saya bersekolah di Santa Ursula dimulai sejak saya SMP, yaitu sekitar tahun 1998. Masih hangat-hangatnya dalam ingatan saya pengalaman kerusuhan berbasis SARA (Suku, Ras dan Agama) pada tahun yang sama. Seorang Fransisca Indraswari yang masih berumur 12 tahun, menjejakkan kakinya di hari pertama dia sekolah, merasa gugup, dan tak menentu dengan hari-hari yang akan ia jalani di sana. Di kanan dan kiri kulihat rok kotak-kotak yang panjang, pohon-pohon yang rindang, namun sepertinya agak “gersang” tanpa pejantan. Pelan-pelan saya mulai terbiasa dengan Santa Ursula yang terkenal dengan kedisiplinan dan prestasi akademiknya. Tak jarang saya harus terus menerus merapikan pakaian, memonitor panjangnya rambut dan kuku supaya tidak di-razia, karena rambut panjang terurai dan kuku panjang ala mak lampir adalah haram hukumnya. Rasanya memang kedisiplinan itu berat, tetapi bukankah “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibr 12:6).”

Kedisiplinan itu sendirilah yang di kemudian hari melatih saya untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidup. Dalam Bahasa Inggris ada pepatah, “What does not kill you will make you stronger”.

Saya bersekolah di St. Ursula selama 6 tahun, dari SMP hingga SMA. Menurut saya 6 tahun tersebut telah menjadi masa-masa kritikal di mana seorang remaja akan membentuk jati-dirinya, memantapkan kepribadian dan juga imannya, di samping melanjutkan pendidikan. Berbeda dengan sekolah-sekolah unggulan yang lain, Santa Ursula tidak hanya mengajarkan dasar-dasar yang kuat dalam mata pelajaran, tetapi juga landasan yang kokoh dalam iman dan juga karakter. Pernahkah anda mengeluh dengan banyaknya tugas kelompok, ulangan dan masih ada kewajiban-kewajiban dari organisasi atau ekstrakurikuler yang diikuti, meskipun anda juga akan senang sekali bila jam pelajarannya dipotong untuk latihan koor atau misa? Tanpa kita sadari, padatnya kegiatan di St. Ursula telah melatih saya menjadi pribadi yang tangguh dan mampu membagi waktu. Kemampuan berorganisasi dengan jelas sangat diasah dan ini menjadi bekal bagi siapapun di dunia kerja dan di mana pun kita berada. Sekecil apapun kesalahan kita, pasti akan ditegur oleh guru-guru tercinta, seperti orang tua kita sendiri.

Yang paling penting adalah dipupuknya kehidupan doa dan landasan moral Katolik di dalam benak kami oleh suster maupun guru-guru yang mendidik kami semua. Nilai-nilai kemandirian telah ditanamkan sejak dini melalui program unggulan seperti “live-in”. Semboyan “Serviam” yang kita nyanyikan dari waktu ke waktu bukanlah kata-kata kosong belaka. Serviam yang artinya “saya mau memengabdi” telah menjadi acuan pandangan hidup murid-murid Santa Ursula, terutama dalam pilihan karier dan gaya hidupnya.

Keputusan untuk memilih karier sebagai dokter adalah sebuah “pencitraan” sekaligus perwujudan dari semangat serviam itu sendiri. Kerja keras dan semangat mengabdi adalah tema utama dalam kehidupan seorang dokter. Semenjak kelulusan, saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke negeri singa, tanah rantau yang masih tidak terlalu jauh dari Indonesia. “Tidak ada elevator untuk menjadi sukses, semua orang harus naik tangga”, adalah refleksi dari perjalanan karier saya. Setelah menyelesaikan Bachelor of Science di National University of Singapore, saya melanjutkan dengan program MD (Doctor of Medicine) di Duke-NUS Medical School yang merupakan kerja sama antara Duke University di North Carolina, USA, dan National University of Singapore. 13 tahun saya habiskan di Singapura untuk kuliah, diikuti dengan ikatan dinas sebagai dokter di rumah sakit pemerintah. Untuk membuktikan prestasi di negeri orang, banyak suka dan duka maupun prestasi dan kegagalan telah saya alami. Ujian yang tidak pernah berhenti, kasus kasus menarik yang saya temui pada saat dinas, menghadapi senior atau pasien yang sulit, kolega yang ultra-kompetitif, semuanya mewarnai kehidupan saya sebagai dokter di Singapura. Namun saya percaya bahwa “If God brings you to it, He will bring you through it”.

Puji Tuhan, setelah melalui berbagai rintangan, saya kemudian melanjutkan spesialisasi saraf di George Washington University hospital, Washington DC, Amerika Serikat, sejak tahun 2018 hingga sekarang. Saya bersyukur sekali atas kesempatan yang langka ini dan berharap semoga keahlian yang saya dapat, bisa diabdikan untuk kepentingan masyarakat banyak. Saya berterima kasih kepada Sekolah St. Ursula yang sudah mendidik saya sejak tahun 1998 hingga 2004, dimana saya belajar untuk memiliki etos kerja yang baik, dedikasi yang tinggi dan iman yang kuat. Saya juga bersyukur sekali atas persahabatan dan solidaritas perempuan yang telah dibangun semasa sekolah dulu. Pendeknya tidak ada yang mustahil untuk seorang wanita untuk menjadi apapun yang dicita-citakan. You go girls!  Tetap teguh serviam…

 

Fransisca Indraswari, MD-SMA Sanur 2004

Neurology residency, 07/2018-06/2021, George Washington University Hospital, Washington DC

Super User