Jl Pos No 2 Jakarta Pusat (021)3840915 admin@sma.santaursulajakarta.sch.id Senin - Jumat : 07.00 WIB - 14.00 WIB Sabtu : 07.00 WIB - 11.30 WIB

Ketika Harus Memilih (F. Irianto Santoso)

Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011, pagi hari.

 

Perjalanan dari rumah menuju sekolah Santa Ursula untuk melihat pengumuman Penerimaan Siswi Baru SMP Santa Ursula terasa begitu lama dan melelahkan, selain karena jalanan yang padat juga karena hati dan pikiran saya sangat merasa kuatir, takut kalau Steffi tidak diterima di SMP Santa Ursula. Apalagi kalau mengingat bahwa Steffi bukan berasal dari SD Santa Ursula. Jadi, di sepanjang perjalanan, saya terus berdoa kepada Tuhan

agar Steffi bisa diterima di SMP Santa Ursula, dan hati kecil saya seperti berbisik kepada almarhumah ibunda Steffi, supaya dia meminta langsung kepada bunda Maria, agar Putranya mengabulkan doa kami.

”Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu. terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.”

”Tuhan, kalau Steffi diterima di Santa Ursula, saya berjanji akan bersedia untuk ikut  berpartisipasi dalam kegiatan Santa Ursula”, janji yang tetap akan saya pegang dalam hidup saya.

Hal-hal yang melandasi keinginan saya, juga Steffi, ingin masuk Santa Ursula, adalah:

Pertama, karena saya dan Steffi ingin mewujudkan keinginan almarhumah isteri saya, ibunda Steffi, yang berharap Steffi menjadi bagian dari keluarga besar kotak-kotak hijau. Keinginan agar Steffi menjadi bagian dari keluarga besar kotak-kotak hijau terus menerus beliau ungkapkan setiap kali ada kesempatan. Bahkan sekitar dua bulan sebelum Tuhan memanggilnya, saat Steffi naik ke kelas 6,  dia juga berkata: “Steffi, nanti kamu daftar ke SMP Santa Ursula ya...”  Mungkin di alam bawah sadarnya dia sudah merasa, bahwa dirinya tidak akan mendampingi putrinya di dunia lagi, sehingga dia ingin menitipkan putrinya di Santa Ursula, yang dia ketahui bukan hanya karena kualitas pendidikan akademisnya yang tinggi saja, tetapi juga sebagai sekolah khusus putri dengan pendidikan karakter dan nilai-nilai hidup berdasarkan ajaran Katolik, serta dengan lingkungan pergaulan yang positif, adalah hal-hal baik bagi pertumbuhan dan pembentukan karakter putrinya di masa depan.

Kedua,  sebagai orangtua tunggal setelah istri saya dipanggil Tuhan pada bulan Agustus 2011, saat  Steffi baru berusia 11 tahun dan baru naik ke kelas 6 SD, dan kakak laki-lakinya baru berusia 16 tahun di kelas 11, saya berasa sangat bingung dan sangat kuatir dengan pendidikan dan kehidupan Steffi, karena saya  dengan tuntutan pekerjaan saya, akan membuat saya tidak akan dapat menemani dia setiap saat.  Oleh sebab itu, saya tidak boleh salah dalam hal memilih sekolah untuk Steffi. Sementara untuk kakak Steffi, saya tidak kuatir, karena  sudah bersekolah di sekolah terbaik khusus murid laki-laki di Menteng Raya.

Steffi kecil saya adalah putri yang pendiam, pemalu, yang manja sebagai anak bungsu. Saya menjadi sangat kuatir dengan perkembangan kepribadiannya karena ditinggal oleh mamanya. Anak perempuan sekecil itu sekarang harus mulai hidup “seorang diri”, tanpa bimbingan dan bantuan ibunya.  Dari mulai pulang sekolah sampai petang hari, dia harus belajar mandiri, mengatur dirinya sendiri, belanja dan memilih pakaian sendiri, mengurus rambut sendiri, belanja kebutuhan sekolah sendiri. Hal-hal seperti itu yang membuat saya sangat berharap agar Steffi bisa menjadi bagian dari putri-putri yang terpilih untuk mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di Santa Ursula, yang merupakan sekolah terbaik di DKI Jakarta,  yang memiliki lingkungan pergaulan yang positif, yang penuh dengan kegiatan yang positif dan yang dapat membentuk Steffi menjadi pribadi yang berkarakter luhur, menjadi wanita yang mandiri, percaya diri, apalagi karena tidak ada lagi seorang ibu yang akan membimbing dia dalam kesehariannya.

Saya menangis bahagia saat melihat nomor 065 termasuk yang diterima di SMP Santa Ursula., walaupun saya sempat salah melihat lembar pengumuman, karena awalnya saya melihat pengumuman untuk yang SMA dan nomor test 065 juga ada di lembar tersebut. Dengan mata berkaca-kaca saya berbisik: Terima kasih Tuhan…terima kasih Bunda Maria…Steffi boleh menjadi bagian dari keluarga besar kotak-kotak hijau yang melegenda.

          Pergumulan lain, dalam hati saya muncul setelah Steffi menjadi bagian dari keluarga kotak-kotak hijau, dan seringkali saya merasa kasihan dan tidak tega melihat begitu banyak tugas yang dihadapi Steffi setiap hari. Dari kamar tidur saya terlihat lampu kamarnya masih menyala sampai jam 12 malam lebih. Entah sedang mengerjakan tugas atau sedang belajar menghadapi ulangan.

Kadang saya bertanya dalam hati, sudah benarkah saya memasukan dia di lingkungan kotak-kotak hijau, melihat perjuangan yang dialaminya setiap hari.

Kalau sudah begitu, saya hanya bisa berdoa agar Tuhan memberikan dia kesehatan dan kekuatan untuk menghadapinya.  Akan tetapi Santa Ursula juga membekali para orangtua dalam menghadapi putri-putrinya yang sedang bertumbuh dan berkembang dari seorang anak perempuan kecil menjadi seorang remaja putri. Hal itu sangatlah membantu saya dalam membimbing dan berkomunikasi dengan putri saya. 

          Setelah mempercayakan Steffi untuk ditempa dan dibentuk di Santa Ursula selama 6 tahun, tanpa didampingi oleh seorang ibu yang membimbing dalam kesehariannya di rumah, terbukti kemudian, dia tumbuh dari seorang anak perempuan kecil yang pendiam dan pemalu menjadi seorang remaja putri dengan karakter dan pribadi yang luar biasa. Ia menjadi perempuan tangguh yang mandiri,  yang bisa berdiri di kaki sendiri, yang bertanggung jawab, mempunyai visi dan misi dalam hidup dan menjadi pribadi yang membanggakan.  Semua itu didapatkan karena selama enam tahun dia dididik di tempat yang tepat, di lingkungan yang tepat, di antara putri-putri yang terpilih, dibawah bimbingan guru-guru dan Suster-Suster yang luar biasa. Karakter dan kepribadiannya ditempa dan dibentuk secara luar biasa selama enam tahun di lingkungan kotak-kotak hijau.

Dengan sistem pendidikan, yang  bukan hanya terfokus pada nilai-nilai akademis saja tetapi juga mengedepankan pendidikan karakter, Santa Ursula membuat Steffi bertumbuh dan berkembang, dengan pondasi karakter yang luar biasa sesuai dengan semboyan Santa Ursula, Serviam yang berarti I will servesaya mau mengabdi, dalam pengabdian kepada Tuhan dan sesama seperti yang diajarkan Yesus dan diteladani oleh Santa Angela Merici pendiri Ordo Santa Ursula. Sistim pendidikan Santa Ursula juga melatih Steffi untuk menjadi seorang pemimpin di kemudian hari,  dengan adanya banyak esktrakulikuler yang disediakan.

Steffi ikut aktif dalam pengembangan bersama Sanur FM, sehingga dapat belajar berorganisasi, belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang mempunyai tanggung jawab untuk kepentingan organisasi, belajar bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi.

Selain mendapatkan pendidikan akademis dan karakter yang baik dan luhur, di Santa Ursula, Steffi juga mengalami pertumbuhan dalam kehidupan rohani, yang membuatnya bertumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah berputus asa, tetapi selalu melihat dengan optimis bahwa selalu ada solusi dan PENGHARAPAN, sesuai dengan warna hijau pada lambang SERVIAM, bahwa selalu ada pengharapan kalau dia mau mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Steffi telah dibentuk menjadi pribadi pejuang yang tidak kenal lelah, pribadi yang mempunyai cita-cita yang setinggi bintang di langit seperti gugusan bintang beruang kecil atau Ursa Minor pada lambang SERVIAM, dan pribadi selalu ingin memberikan yang terbaik dalam hidupnya.

          Kini dengan bekal kehidupan yang telah didapatnya semasa di Santa Ursula membuat saya tidak usah menjadi gamang dan kuatir lagi, membiarkan dia seorang diri menempuh pendidikan di London, Inggris, untuk meraih mimpi dan cita-citanya.

Pada suatu hari, siapapun akan diperhadapkan pada pilihan, dan ketika siapapun harus memilih, maka pilihan pasti akan dijatuhkan pada sesuatu yang terbaik.

Kesadaran bahwa Produk yang berkualitas hanya dihasilkan oleh institusi yang berkualitas, dan institusi yang berkualitas hanya diisi oleh pribadi-pribadi yang berkualitas, inilah alasan yang paling menentukan, mengapa saya memilih untuk menyekolahkan Steffi di Santa Ursula. Pilihan yang tepat karena sebagai institusi pendidikan yang sudah berusia lebih dari satu setengah abad, atau tepatnya160 tahun dan secara konsisten, selalu menjadi salah satu sekolah yang terbaik, dari waktu ke waktu, maka wajar jika saya percaya, bahwa Santa Ursula adalah pilihan terbaik untuk Steffi, dan memang terbukti, Santa Ursula sebagai almamater Steffi,  dapat dipercaya, melihat kenyataan, bahwa  puteri saya Steffi, saat ini, mampu tegar ketika harus seorang diri melanjutkan pendidikan di London.

Sekarang dirinya telah bertumbuh dan berkembang  menjadi pribadi yang dengan bekal kualitas akademisnya  serta kepribadian dan karakter  berkualitas, yang dia dapatkan di bangku sekolah Santa Ursula, membuatnya mampu bersaing secara global di institusi pendidikan internasional di Inggris.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi kesempatan untuk memilih menyekolahkan Steffi di Santa Ursula, sekolah yang yang kualitasnya sudah teruji, seiring dengan eksistensinya sebagai institusi pendidikan yang telah melegenda di sepanjang 160 tahun keberadaannya. Suatu rentang waktu yang tidak singkat.

Saya juga sangat berterimakasih kepada Suster, guru dan karyawan yang selama ini membimbing Steffi sehingga menjadi pribadi yang kuat dan teguh, ramah dan rendah hati serta santun dalam berperilaku. Saya bangga dan bersyukur menjadi bagian dari keluarga besar Santa Ursula. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena tidak salah memilih  ketika harus memilih. Semoga Santa Ursula tetap menjadi pilihan utama dan terbaik sebagai tempat pendidikan untuk akademis, karakter dan rohani di Indonesia.

Soli Deo Gloria

 

Frederic Irianto Santoso

Orang tua siswa dari Steffi (alumna)

Super User